This story available only on WATTPAD. Go check it.

Tuesday, December 4, 2012

SOE HOK GIE


“Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi”
(Catatan Seorang Demonstran, h. 93)”
― Soe Hok Gie

Soe Hok Gie, mahasiswa revolusioner dengan jiwa-jiwa kebebasannya yang tidak terbendung. Keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942.  Anak keempat dari lima bersaudara.
Sastra adalah salah satu jalannya menghidupkan kebebasan yang pada era itu terkekang oleh kekuasaan.
Ayahnya Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan adalah seorang novelis. Tidak heran jika sejak kecil ia sangat dekat dengan sastra. Ketika masih bersekolah, ia dan kakaknya Arief Budiman (Soe Hok Djin) sering mengunjungi perpustakaan umum. Bacaannya adalah karya-karya sastra serius seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Salinan cerpen Pramoedya Ananta Toer “Cerita Dari Blora” yang termasuk langka saat itu konon telah dibacanya ketika ia duduk di bangku SMP. Minat sastranya yang tinggi ini membuatnya memilih fakultas sastra jurusan sejarah di Universitas Indonesia.
Sifatnya yang bebas tidak mau dikekang oleh aturan serta berprinsip kuat pada keadilan telah ditunjukkan sejak kecil. Ketika SMP ia diharuskan mengulang karena prestasi belajarnya buruk. Dan Soe Hok Gie tidak mau mengulang karena ia merasa diperlakukan tidak adil dan lebih memilih untuk pindah sekolah.
Soe Hok Gie adalah tokoh inspiratif bagi mahasiswa yang mencintai perjuangan. Ia mencintai Indonesia dan dunia mahasiswa, dan menjadi aktivitis mahasiswa demi keadilan untuk Indonesia saat itu. Perjuangannya bersama angkatan 66 ternyata justru menghasilkan rezim penguasa baru yang korup dan bertanggung jawab atas pembantaian jutaan orang yang dituduh komunis. Teman-teman seperjuangannya yang dulu menentang bersamanya seiring waktu justru berpihak kepada pemerintah dan ikut menjalani kejahatan rezim tersebut. Kejujuran, ketidakpatuhannya pada pembungkaman kebenaran sehingga ia tidak suka berkompromi, keadilan yang diyakininya, membuatnya tersisih dari orang-orang disekitarnya.
Seluruh sepak terjang dan pemikiran-pemikiran kritisnya tertuang dalam catatan hariannya. Telah menginspirasi Riri Riza untuk menghidupkannya kembali dalam sebuah film berjudul “Gie” di tahun 2004.
Melalui tulisannya yang tidak bisa mati, ia akan menyentuh jiwa-jiwa revolusioner mahasiswa Indonesia. Melanjutkan estafet perjuangannya untuk sebuah keadilan.

“Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa
(Catatan Seorang Demonstran, h. 101)”
― Soe Hok Gie

“Kami  jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
― Soe Hok Gie, Soe Hok Gie:  Catatan Seorang Demonstran

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. ”
― Soe Hok Gie

“Saya mimpi tentang sebuah dunia di mana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, “stop semua kemunafikan! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi.
Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”
― Soe Hok Gie

“Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran.”
― Soe Hok Gie

“Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”
― Soe Hok Gie

“Karena aku cinta pada keberanian hidup”
― Soe Hok Gie

0 comments:

Post a Comment

 
;