PETJAH: NOSTALGIA PUTIH ABU-ABU



PETJAH


Penulis: Oda Sekar Ayu

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tahun terbit: 2017

Tebal: 314 halaman

Goodreads rating: 3,90

--

   Nadhira menyukai Dimas Baron walaupun selama satu tahun cowok itu mengabaikannya. Suatu sore ketika tetesan hujan berjatuhan, di bawah payung Biru, Nadhira mengucapkan satu permintaan kepada semesta. Nadhira meminta Dimas. 

Semesta mengabulkan. Semesta juga menghadirkan Ambrosius Biru. 

Di antara masa lalu, Dimas dan Biru, semesta membuat hidup Nadhira Petjah. 

**

   Awalnya, gue baca Petjah melalui wattpad. Gue bahkan sampai merekomendasikan ke teman karena menurut gue ceritanya bagus. Beda sama pasaran wattpad. Tapi gue gak baca sampai selesai. Saat itu kayaknya gue udah mulai gak aktif lagi di situs itu atau gara-gara memang buku ini di cut untuk proses penerbitan, gue lupa. Gue udah feeling kok. Buku sebagus Petjah, pasti dapat tawaran naik cetak dong. And fast forward to April 2017, gue scrolling through Instagram daaaan salah seorang teman posting foto Petjah. Dalam bentuk paperback. So why not? Kenapa gue gak beli aja. 

**

Here is my thought tho..

   Terlepas dari kekurangan-kekurangannya, gue enjoy baca buku ini dari awal sampai Biru tahu apa hubungan Erlang dan Nadhi. From that moment, it went downhill. Too much drama I can barely handle it. 

   Setelah konflik itu, Nadhi dan Biru jadi drama banget. Gue jadi ingat komentar Dimas tentang Biru, “Laki kok drama” Dimas, honey, I feel you. 

Jadi gue rasa udah pas lah Nadhi sama Biru, they deserve each other drama. 

   Alasan Biru menyuruh Nadhi menjauh dan alasan Nadhi menyalahkan Biru. If I can talk to them, here is what I wanna say: Cut the bullshit guys and save time. Erlang bisa menolak permintaan Biru dan memikirkan bagaimana sedihnya Nadh kalau dia melakukan itu, tapi Erlang gak menolak. Nila bisa berbagi beban dengan Biru atau berpikir bagaimana sedihnya Erlang dengan keputusannya, tapi dia memutuskan untuk menyerah. The way Biru and Nadh cope with their sadness just.. tiring. 

   Half the reason I hate the drama because I’m so done with this argument: “I’m not good for you so leave. Dont come to me, dont love me.” Asgasdgajglkhll... Biru, ganteng-ganteng kok gak kreatif. 

Tapi kalau gak begitu, gak ada cerita ya.

   Gue maklum sih mereka masih remaja unyu-unyu jadi mikirnya begitu. Faktor keluarga mereka yang merenggang gue kira juga mempengaruhi drama salah menyalahkan itu. 

   Banyak sekali momen kebetulan di buku ini. Gue pikir memang sengaja dibuat seperti itu. Semesta, remember? Jadi ya mau gimana lagi, Nadhi dan Biru memang ditakdirkan selalu bertemu. I get it. Gue tipe pembaca yang gak suka teori kebetulan jadi beberapa kali gue harus menghela napas. 

   Biru lagi, Biru lagi. Ini Biru gak punya mantan ya di sekolah? Berarti Biru orangnya cool adem-adem es batu kan? Gue duga Biru tipe senior keren yang suka ngacangin cewek-cewek? Kok tiba-tiba memutuskan memayungi Nadhi? Kenapa Nadhi? Kenapa gak murid cewek lain, pasti ada juga yang lagi kehujanan kan? Karena Nadhi super cute??? Biru, kok Biru bisa melihat Nadhi di bandara? Gak ada alasan kalau sama-sama mau ke Belanda. Memangnya penerbangan ke Belanda cuma satu itu doang. Biru kamu punya kompas penunjuk arah ke Nadhi ya? Whyyy, semesta explain this to me! 

Eh tapi serius deh, emang Biru gak punya mantan pacar sebelum Nadhira?

Iyaa Biru! Saya orangnya cerewet seperti itu, semua tindakan dan keadaan kamu saya pertanyakan!

Hahaha. 

  Kadang-kadang gue juga gak ngerti sama Dimas. Dimas changes so fast from ignoring Nadhi to “bejek-bejek pipi bakpao” Eh.. 

   Kadang-kadang lagi. Gue juga sama kayak Dimas, rada greget sama Nadhira. Polos banget atau polos banget? Dia gak sadar kalau ada cowok suka sama dia. Dan gue merasa agak kasian sama Dimas. Why didnt Nadhi just let Dimas go? Nadhi selalu datangin Biru tapi dia gak mau lepasin pegangannya sama Dimas. Like gurll, take a risk! Kinda selfish I think. Tapi gue salut sih sama Dimas. Coba gak ada UN dan segala kerepotan belajar itu, gue yakin Dimas bisa merebut Nadhi dari Biru. I dare you to bet with me. 

   Mengenai diksi dan cara bercerita. Puitis sekali. Apalagi cara Nadhira dan Biru bercakap-cakap, kayak baca puisi to each other. Ada kalanya gue merasa percakapan mereka gak kayak anak SMA. Jujur aja itu bikin interaksi Nadhira dan Biru gak realistis. But what can I say. Their conversation and poetry, I think it’s the soul of the book. If you take or replace the soul, it will be completely different story. Tanpa itu, Petjah akan jadi teenlit biasa yang gak punya ciri khas. 

  Dan gue juga lebih prefer Biru ngomong saya-kamu sama Nadh daripada aku-kamu. Kesannya dewasa, idk why I have this thought.. but it’s romantic. 

   TAPI gue memutuskan nge-rate buku ini di atas rata-rata karena pesannya. It’s beautiful it cant be anymore right. Salah satunya: pemikirian idealis Dimas Baron mengenai cita-cita dan tujuan hidup. (Nanti gue kasih di quote). Cita-cita gak bisa mendefinisikan tujuan hidup lo. Tujuan hiduplah yang mendefinisikan cita-cita lo. Nadhira berbakat dalam sastra. Prestasi menulisnya banyak. Dia bisa masuk jurusan sastra (gue yakin). Tapi apa yang ingin Nadh raih dengan puisi-puisinya itu? Dengan semua tulisannya? Membuktikan diri? Apa itu tujuan hidupnya Nadhira? Untuk membuktikan diri? Gak. Dia gak mau kejadian Erlang terulang. Nadhira memilih masuk jurusan hukum. 

Self discovery of yourself. 

ps: ada quote dari G-Dragon dan Tablo. That;s it! Sebagai YGStan gue harus rekomendasikan buku ini buat YGStan yang lain. 

pss: novel ini punya kekuatan khusus yang bisa bikin lo nostalgia ke masa-masa SMA. Just in case.. you know, to prepare. Kali aja galau. 


FAVORIT SCENE

Ketika Dimas melakukan transfer energi kepada Nadhira. Itu konyol banget. 



RATING




QUOTE


“Cita-cita itu sesuatu hal yang abstrak. Dia itu adalah bentuk paling nggak jelas dari sebuah kata benda yang manusia buat. Sebaliknya, tujuan hidup itu justru sesuatu yang real. Ibarat katrol, bebannya itu lo, tali katrolnya adalah kehidupan lo, dan gaya yang menggerakkan katrol itu, ya, tujuan hidup lo. Makanya kalau nggak ada tujuan hidup, ya, hidup lo stagnan. Kalau mau hidup, ya, harus punya tujuan meskipun tujuannya sekadar buat bertahan sampai hari besok.” – Dimas Baron (Everyone #prok #prok)

Post a Comment

0 Comments