HOPELESS SERIES: #1 HOPELESS




“HOPELESS – TANPA DAYA”


Colleen Hoover

Genre : YA (Young Adult)

496 halaman

Goodreads rating : 4,41

Gramedia Pustaka Utama, 2015


----


Terkadang mengetahui kebenaran lebih membuat putus asa ketimbang meyakini kebohongan...

   Itu yang Sky sadari ketika ia bertemu Dean Holder. Dikenal gara-gara reputasi buruknya di sekolah, hanya Holder yang sanggup membuat jantung Sky berdebar-debar. Membuat gadis tujuh belas tahun itu takut sekaligus terpesona pada sikapnya yang tak mudah ditebak. Tapi Holder sumber masalah. Apalagi sejak cowok itu hadir, kenangan lama yang lebih baik terpendam kembali menghantui.

   Masalahnya, Holder terus mendekat. Memaksa ingin mengenal Sky lebih jauh. Sky pun akhirnya menyerah. Menyambut cowok itu memasuki hidupnya. Hanya untuk mengetahui kebenaran, bahwa Holder tidak seperti yang dia katakan. Bahwa ada rahasia yang dia sembunyikan. Dan ketika rahasia itu tersingkap, hidup Sky tidak pernah sama lagi. 

--

   Buku ini untuk remaja cewek, khususnya. Gue ragu kalau cowok bisa enjoy baca buku ini. Walaupun sebenarnya ada buku kedua LOSING HOPE yang ditulis dari sudut pandang Dean Holder. Dan mengingat genre, bisa dibilang buku ini berhasil kok.

   Cerita diawali dengan pertemanan Sky dan Six. Dan karena ingin bersekolah bareng Six, Sky memohon kepada Karen agar diperbolehkan belajar di sekolah umum. Awalnya Sky adalah siswa homeschooling. Ternyata Six harus mengikuti pertukaran pelajar ke Italia. Sky dengan sifat aslinya yang keras kepala, menolak untuk mengakui kalau ia tidak berminat lagi belajar di sekolah umum, harus menjalani akibat permintaannya dengan menjadi siswa baru di sekolah umum. Sky bukan siswa baru biasa, hari pertama sekolah ia memperoleh lebih banyak haters daripada teman. Lalu ia bertemu dengan Dean Holder. Keputusan Sky untuk belajar di sekolah umum membawanya dalam pengungkapan rahasia besar-besaran yang meluluh-lantakan dirinya. 

   Linden Sky Davis, karakter utama cewek. Cantik, check. Sassy, check. Rambut cokelat karamel dengan bibir yang membuat Holder tergila-gila, check. Tipe favorit karakter cewek utama para penulis wattpad. Gue pribadi suka sifat Sky yang masa bodoh. Dicerita ini, Sky adalah cewek SMA yang diterpa gosip “cewek nakal”, “cewek gampangan”, “slut”. Gosip-gosip itu muncul karena Sky berteman dengan Six. Dan Sky sendiri gak pernah berusaha menepis gosip-gosip itu. 

“Aku berharap semoga sebagian besar keisengan yang kuterima nanti akan berupa keisengan “memberi saweran” seperti yang kualami sekarang. Orang bodoh macam apa yang memberi uang untuk menghina seseorang? Kurasa orang bodoh yang kaya raya. Atau beberapa orang bodoh yang kaya raya.”

“...Seperti pesan yang ditempelkan di lokerku pagi ini. Isinya hanya, Dasar murahan. Yang benar saja. Di mana sisi kreatifnya? Apa mereka tidak bisa melengkapi dengan cerita pendukung yang menarik? Mungkin menambahkan beberapa detail tentang keliaranku? Jika aku harus membaca pesan-pesan payah ini tiap hari, paling tidak mereka harus membuatnya menarik. Jika aku harus mengendap-endap untuk menempelkan sesuatu di loker seseorang tanpa ketahuan, paling tidak aku akan berbasa-basi menyenangkan hari siapa pun yang membaca pesan itu. Aku akan menulis sesuatu yang menarik seperti “Aku melihatmu di ranjang bersama pacarku kemarin malam. Aku tidak suka kau mengoles minyak urut di bagian tertentu tubuhnya. Dasar murahan.” ...Alih-alih mencopot pesan berperekat itu seperti yang seharusnya kulakukan, aku mengambil bolpoin dan membuat kertas pesan itu terlihat sedikit lebih kreatif. Sama-sama, Penonton...”

   See? Sky was like, “I dont give a damn”. Gue harap remaja manapun yang menjadi korban bullying, gosip, atau hinaan bisa menghadapi hal itu seperti Sky. Gak ada satu remaja pun –terlepas dari apa yang mereka lakukan- layak menerima perlakuan seperti itu. Dan bukan, inti cerita buku ini bukan tentang bullying. 

   Dan, Sky lucu. Gue ngakak saat baca ketika Sky nanya ke Holder, apa artinya “LOL” di sms yang dikirim Holder. Sky pikir arti LOL adalah Lots of Love. Dan bukan Sky aja sih yang lucu. Hampir semua karakter di buku ini punya selera humor yang bagus. Itu salah satu hal yang bikin pembaca gak bosan baca HOPELESS.

   Satu hal lagi, gak seperti remaja kebanyakan, Sky gak punya ponsel, akun facebook, gak pernah buka internet, dan parahnya di rumah Sky gak ada televisi. Itu semua berkat cara mendidik Karen –ibu Sky- yang antiteknologi. Itu menjelaskan segala keanehan sikap Sky dalam menghadapi sesuatu. Cara Sky berkomentar tentang sesuatu kadang-kadang priceless. Lucu abis. 

Well, kalau gue sih gak sanggup hidup tanpa ponsel. It’s a no no. 

Kemudian...

   Dean Holder, karakter utama cowok dengan tato HOPELESS di lengannya. Gue cuma perlu satu kata untuk mendeskripsikan Holder. Bad boy. Holder punya masalah dalam mengendalikan emosi. Gue gak bercanda. Nanti kalau kalian baca tiba-tiba Holder memukul loker atau memukul kap mobil atau menggebrak pintu kafetaria. Yah, biasain aja deh. Colleen Hoover mendeskripsikan fisik Holder dengan flawless. Super hot bla bla bla. Gue gak akan bisa menandingi deskripsi Cooleen Hoover mengenai Holder dan sebenarnya gak ada gambaran juga sih dia mirip artis siapa gitu. Satu-satunya artis cowok Amerika yang ganteng menurut gue ya Chris Evans atau Aaron Taylor-Johson. So, anggap aja Holder se-flawless mereka. Yang sedikit mengganggu tentang Holder adalah pilihan katanya dalam berbicara agak gak sinkron dengan karakternya secara keseluruhan. 

   HOPELESS lebih menekankan pada alur cerita. Jadi setting tempat di Texas dan Austin gak berpengaruh banyak. Ngomong-ngomong tentang alur cerita, walaupun gue bisa nebak kejutan ceritanya seperti apa, tapi gue harus akui itu kejutan yang gak menggembirakan. Bukan dalam hal penulisannya karena untuk penulisan novel, kejutan itu cukup cerdas. Tapi untuk sekedar direnungkan, apa yang terjadi pada Sky dan bisa terjadi kepada semua cewek, gue gak rela aja. Sebagai cewek, gue bahkan gak berani membayangkan apa yang akan gue lakukan kalau hal itu terjadi sama gue. 

   Ada satu karakter penting lain dalam buku ini yaitu Lesslie atau Less, saudari kembar Holder. Gue gak mau bocorin spoiler, tapi Less adalah orang yang gak bertahan menghadapi penderitaan itu. Sedangkan Sky –karena banyak hal- akhirnya mampu bertahan. Walaupun menurut gue pribadi, apa yang terjadi sama Sky lebih parah daripada Less. 

   Sekalian untuk menambahkan bahan renungan, apa yang terjadi dengan Sky sering terjadi di Indonesia. Dan kita biasanya terfokus pada hukuman untuk pelaku. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang bernasib seperti Sky dan Less? Kepada psikologi mereka. Gue gak tahu gue bisa menolong dalam hal apa selain ada untuk mereka, karena menurut gue pribadi, kejahatan semacam itu benar-benar gak tertolong. Kalaupun korban berhasil survive, mereka gak akan pernah sembuh. 

   Pesan yang gue dapat dari HOPELESS kira-kira begini: mengetahui kebenaran selalu lebih menyakitkan dan seburuk apapun kebenaran itu, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerimanya. 

   Peringatan, HOPELESS gue kasih rating 19 (R-19) - DEWASA. Emang sih Young Adult, tetep aja ini untuk pembaca yang udah 19 tahun. 

   Jadi yah, buku ini lucu, asik dibaca, refreshing, dan bisa buat renungan juga. Gue rekomendasikan untuk tipe pembaca: cewek yang suka novel genre YA atau yang suka karakter cowoknya flawless. Intinya kalau cewek, pasti suka aja buku ini. 

   Untuk apa yang janggal dan hal lain-lain akan gue bahas di review LOSING HOPE. 


(+)

Covernya lebih keren dari versi asli. Bayangan gue tentang Sky persis seperti cewek yang ada di cover. 

Terjemahannya gak kaku. 

Seingat gue, gak menemukan typo.


(-)

Banyak hal-hal yang gak gue mengerti mengenai respon karakter menyikapi beberapa hal. Khusus hal ini akan gue bahas di review LOSING HOPE. 



RATING 

ps: gue tertarik baca buku ini karena melihat ratingnya di Goodreads yang saat itu 4,5. Menurut gue, untuk Goodreads, rating 4 aja udah wow banget. 



QUOTE

“Aku bukan penggemar happy ending, tapi jika kedua tokoh ini tidak mendapatkannya, aku akan menyusup ke e-reader dan mengunci mereka berdua di garasi sialan itu selamanya.”

Post a Comment

0 Comments